Tiga Tahun Perwujudan Ekonomi Kreatif PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Analisa Jkt   
Rabu, 18 November 2009 08:54

Jakarta, (Analisa)

Hampir tiga tahun belakangan ini frasa "ekonomi kreatif" banyak bermunculan di media massa. Indonesia memang sedang mengarah pada era ekonomi kreatif.

Sejak penyelenggaraan Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang pertama tahun 2007, Indonesia resmi memasuki era ekonomi gelombang keempat itu.Dalam pidato pembukaan PPBI pertama itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa Indonesia sedang bersiap untuk menyambut era ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif di Indonesia selama 2002-2006 telah menyumbang 6,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atau mencapai Rp104,6 triliun dan menyerap 5,4 juta tenaga kerja. Kontribusinya terhadap kinerja ekspor cukup besar, yaitu sekitar 10 persen atau Rp81,5 triliun pada 2006.

Pada PPBI , diidentifikasi 14 subsektor industri kreatif yaitu periklanan; kerajinan; seni pertunjukan; film, video dan fotografi; televisi dan radio; arsitektur; desain; musik; layanan komputer dan piranti lunak; bidang fesyen; bidang pasar barang seni; bidang permainan interaktif; bidang penerbitan dan percetakan; serta bidang penelitian dan pengembangan (riset dan pengembangan).

Setelah dilakukan diskusi antara pemerintah dengan berbagai pelaku usaha ekonomi kreatif termasuk budayawan, seniman dan desainer, pada PPBI kedua tahun 2008 pemerintah meluncurkan rencana besar atau "cetak biru "pengembangan ekonomi kreatif.

Dalam cetak biru ekonomi kreatif yang dilaksanakan mulai 2009-2025 itu disebutkan bahwa upaya pengembangan ekonomi kreatif dilakukan dengan pola triple helix yaitu dilakukan secara simultan oleh pemerintah, intelektual dan pebisnis.

Pemerintah pusat dan daerah membuat aturan yang memfasilitasi pengembangan industri kreatif. Intelektual melakukan penyempurnaan kurikulum pendidikan yang bisa membentuk pola pijir atau "mindset" kreatif sejak usia dini anak.

Sementara itu, pelaku bisnis terutama perbankan diminta membuat konsep pembiayaan yang mendukung industri kreatif.

Penanaman konsep ekonomi kreatif tampaknya telah berhasil dilakukan oleh pemerintah. Bahkan desainer fesyen Musa Widyatmojo menyadari pentingnya konsep triple helix benar-benar terlaksana.

"Saya baru paham arti triple helix yang diutarakan Ibu Mari (Pangestu) pada PPBI waktu itu. Cedekiawan, pemerintah dan pengusaha harus bersatu padu dalam mengembangkan industri kreatif," ujarnya.

Evaluasi

Tahun 2009 dicanangkan sebagai Tahun Indonesia Kreatif. Pada tahun ini pula implementasi rencana aksi cetak biru pengembangan ekonomi kreatif dilakukan. Pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif pada 2015 naik menjadi 7-8 persen.

Untuk memastikan pencapaian target itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pihaknya sedang melakukan evaluasi terhadap implementasi cetak biru ekonomi kreatif yang disusun tahun lalu.

"Saya sedang coba selesaikan akhir Mei ini. Sejak kampanye berapa pertumbuhan ekonomi kreatif. Mudah-mudahan sudah ada angka yang bisa di'share'," katanya.

Hasil evaluasinya, lanjut Mendag, akan dipublikasikan pada Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) ke-3 yang dimulai pada 24 Juni 2009.

Mendag mengatakan tema PPBI  ketiga adalah implementasi rencana aksi serta evaluasi cetak biru yang telah dibuat pada PPBI kedua tahun lalu.

"PPBI pertama temanya pencetusan ide ekonomi kreatif, kedua kita sudah berhasil membuat cetak birunya, yang ketiga nanti adalah 'action plan dan evaluasi 'blue print',"ujarnya.

Sejak dicetuskan pada 2007 lalu, pengembangan industri kreatif masih mengalami berbagai masalah yang sama. Beberapa masalah itu antara lain sulitnya pasokan bahan baku, akses perbankan untuk modal usaha, belum maksimalnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual, serta kurangnya ruang publik untuk berkreasi.

"Penyelesaiannya sedang menjadi pembahasan pemerintah," tutur Mendag.

Mendag mengaku cukup puas dengan respon masyarakat terkait upaya pengembangan ekonomi kreatif. Bukan hanya pemerintah daerah yang mulai tergerak untuk menyediakan ruang publik untuk pameran dan pertunjukan namun juga mal/pusat perbelanjaan.

"Pengelola mal sudah banyak yang menyediakan ruang publik secara reguler untuk pertunjukan atau pameran. Ini bagus sekali, berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi kreatif,"katanya.

Pada bulan Juni nanti, pemerintah kembali menggelar PPBI ketiga yang difokuskan pada evaluasi pelaksanaan rencana aksi cetak biru pengembangan ekonomi kreatif.

Mendag mengatakan isu lain yang akan difokuskan dalam PPBI ketiga itu antara lain masalah pembiayaan bagi industri kreatif.

"Kami sudah meminta BNI untuk menyusun konsep pembiayaannya,"ujar Mendag.

Menurut dia, perbankan perlu diberikan pengertian lebih mendalam mengenai potensi ekonomi kreatif yang bisa sangat menguntungkan. Mendag berharap dalam PPBI ketiga itu konsep pembiayaan industri kreatif akan bisa diselesaikan. (Ant)

Sumber : analisadaily.com

 
Kembangkan Industri Kreatif, Depdag Bentuk Unit Khusus PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh epi/dnl - detik finance   
Rabu, 18 November 2009 08:45

Jakarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan restrukturisasi untuk lebih mengikuti perkembangan fungsi dan tugasnya
termasuk dalam pengembangan ekonomi kreatif.

"Kita sudah merombak, dimana ada unit-unit yg bertugas untuk mengembangkan ekonomi kreatif baik jasa dan produknya," ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Alun-alun Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (17/11/2009).

Selain itu, Mari juga akan memilih beberapa pilot project untuk mengembangkan ekonomi kreatif seperti animasi dan fashion. "Karena kita lihat untuk fashion pasar dalam negerinya besar, apalagi kalau bisa berkembang hingga ke luar," ungkapnya.

Mari menambahkan, saat ini fashion menjadi kontributor terbesar dalam industri kreatif. Kontribusinya yaitu mencapai 20 hingga 30  persen.

Pemerintah juga telah menyusun cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia hingga tahun 2025, yang disusun berdasarkan pada tren positif dari kontribusi rata-rata PDB industri kreatif selama tahun 2002-2006 sebesar Rp 104 triliun atau 6,3 persen dari nilai PDB nasional.

Dalam kajian yang dilakukan Depdag bersama tim studi, para pelaku usaha dan pemerintah terkait, kontribusi ekonomi kreatif terhadap pembangunan terus menunjukan kenaikan.

Pada tahun 2002-2008, dengan menambahkan kontribusi kreatif di sektor industri pengolahan, khususnya industri kecil dan rumah tangga, kontribusi rata-rata PDM mencapai Rp 139,8 triliun atau 7,8 persen dari total PDB nasional.

Dalam cetak biru industri kreatif 2009-2005, pemerintah menargetkan kontribusi terhadap PDB naik menjadi 9-11 persen dan penyerapan tenaga 8-11 persen di tahun 2025.

Pada tahun 2025 tersebut, jumlah pelaku usaha yang bergerak di sektor industri kreatif ditargetkan meningkat menjadi 7,7 juta perushaan atau naik tiga kali lipat dari posisi 2006.

(epi/dnl)

Sumber : DeikFinance.Com

 
Industri Kreatif dan Kaum Muda PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh ANDI NURRONI   
Rabu, 18 November 2009 08:23

Praktik industri kreatif mengalami eskalasi pascakrisis ekonomi yang terjadi pada 1997. Salah satu titik yang banyak memunculkan usaha jenis ini adalah Kota Bandung. Sebagai suatu hukum, kondisi sosial-ekonomi di Kota Bandung saat itu telah merangsang masyarakat, khususnya kaum muda yang memang memiliki sejarah panjang dalam persoalan kreativitas, untuk menemukan ide-ide solutif guna mengakhiri kebuntuan kondisi yang tengah mereka hadapi.

Sebagai hasil, dari tangan cekatan kaum muda lahir dan berkembanglah unit-unit usaha di bidang fashion (distribution outlet/distro, clothing), musik (independent recording lable/indie lable) dan usaha lain yang digerakkan kreativitas kaum muda. Di samping dua bidang tersebut, sektor lain yang dikategorikan industri kreatif adalah arsitektur, periklanan, barang seni (lukisan, patung), kerajinan, desain, permainan interaktif, seni pertunjukan, penerbitan-percetakan, layanan komputer dan peranti lunak, radio dan televisi, riset dan pengembangan, serta film-video-fotografi.

Kelompok ini membangun industri kreatifnya tidak semata mempertimbangkan aspek peluang bisnis ataupun keuntungan, tetapi juga nilai kolektivitas, propaganda, serta perlawanan dan perjuangan. Realitas sosial yang sarat dengan permasalahan telah memantik mereka untuk mempersatukan diri dan berjuang menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik menurut kacamata mereka.

Media perjuangan

Industri kreatif, terutama di bidang fashion, musik, dan penerbitan, dijadikan kelompok ini sebagai media perjuangan sekaligus pendukung perjuangan dari segi finansial. Atas dasar itulah, tak jarang kita menemukan kaus-kaus dengan gambar ataupun tulisan yang mempertanyakan setiap kejanggalan dalam realitas keseharian yang mereka hadapi.

Di Amerika Serikat, dalam sejarahnya hadir kelompok musik Rage Against the Machine (RATM) dengan lirik-lirik lagunya yang pedas mengkritik pemerintah. Bahkan, lebih dari itu, eksistensi mereka kerap dikaitkan dengan kelompok petani bersenjata yang memperjuangkan hak atas tanah di Meksiko, Zapatista.

Sementara di Jakarta kita mengenal komunitas punk Taring Padi dan Marjinal yang banyak memproduksi kaus-kaus satire serta lagu-lagu yang liriknya bermuatan nilai kemanusiaan dan perlawanan. Di bidang penerbitan dan toko buku, muncul kemudian label-label baru, seperti Resist Book dan Insist Press di Yogyakarta, Ultimus di Bandung, dan masih banyak yang lain.

Meskipun demikian, jumlah kelompok anak muda yang menjadikan industri kreatifnya sebagai metode perjuangan sangat terbatas. Sebagian besar memaknai industri kreatif tak lebih dari gerbang awal memasuki dunia bisnis. Dalam merintis kariernya, bukanlah hal yang tabu bagi kalangan mayoritas ini untuk mempraktikkan teori bisnis kapitalisme.

Hari ini arus utama industri kreatif telah masuk dalam labirin kapitalisme. Wacana industri kreatif telah diambil alih dan terus diproduksi oleh kapitalis untuk menggerakkan pemuda yang energik dan sarat kreativitas guna menjadi agen kaum pemodal supaya dominasi dan hegemoninya atas dunia tetap terkukuhkan.

Kini industri kreatif yang digerakkan pemuda sebagai jawaban atas ketiadaan lapangan kerja akibat kegagalan pemerintah yang prokapitalis dan berpotensi kuat menjadi media perjuangan dalam menuntut keadilan sosial telah didorong menjadi semacam cairan infus untuk memulihkan kondisi kapitalisme yang tengah sakit dilanda krisis global.

Krisis global

Krisis sejatinya merupakan "anak kandung" dari kapitalisme. Sepanjang sejarahnya, prinsip ekonomi yang tidak berkeadilan yang dibangun kapitalis telah sekian kali membawa umat manusia ke jurang krisis. Sebagai contoh adalah krisis global yang hari ini melanda dunia, yang konon disebut-sebut para ahli sebagai krisis terparah sejak krisis hebat yang terjadi tahun 1930.

Krisis kali ini berpusat langsung di jantung kapitalis dunia, yaitu Amerika Serikat. Yang menjadi lantaran adalah kredit macet di sektor perumahan kelas dua (subprime mortgage) yang diperparah oleh kekacauan pasar modal akibat spekulasi para pialang.

Hakikat dari krisis ini adalah terjadinya kelebihan produksi akibat radikalisasi industri dan meningkatnya kualitas pertentangan sesama kapitalis. Ketidakberdayaan pasar dalam menyerap komoditas kapitalis yang disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat, yang juga lantaran pengisapan kapitalis, telah menciptakan kondisi di mana modal tidak bergulir menjadi keuntungan karena tertahan dalam bentuk barang.

Kedudukan AS sebagai pusat perputaran uang dunia kemudian secepat kilat menyebarluaskan krisis yang terjadi di dalam negerinya ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Baik di AS maupun di belahan bumi lain, unit-unit usaha terguncang dan sejumlah langkah antisipatif diambil guna menghindarkan mereka dari kebangkrutan.

Kondisi ini telah membuat rakyat di seluruh dunia semakin sengsara sehingga lebih sensitif dan bisa dengan sangat mudah mengekspresikan kesusahannya dengan jalan demonstrasi. Pemerintah dan kapitalislah yang banyak dipersalahkan dalam maraknya kasus pemutusan hubungan kerja, melambungnya harga kebutuhan pokok, dan lain-lain.

Menghadapi kondisi krisis, kaum muda yang identik dengan energi yang berlebih dan tingkat kelabilan yang lebih tinggi jelas merupakan ancaman terhadap kapitalis. Setelah serangan di sektor budaya dilakukan kapitalis sejak lama melalui media informasi, hari ini potensi perlawanan pemuda dalam usaha produksi kreatif telah diredam melalui propaganda industri kreatif ala kapitalis dan kemudian menjadikan pemuda sebagai agen untuk menjalankan roda ekonominya.

Dengan propaganda industri kreatif yang sarat dengan nilai kapitalisme, pemuda dijauhkan dari nilai perjuangan dan perlawanan dalam industri kreatifnya.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana nasib rakyat yang tertindas saat gerakan pemuda yang dalam sejarahnya selalu menjadi pemantik dan pendorong perubahan sosial hari ini justru terjebak dalam labirin yang dibangun musuh, bahkan lebih jauh menjadi tentara musuh?

Jika tidak ingin kondisi bangsa lebih buruk, pemuda harus berjuang mengeluarkan industri kreatifnya dari labirin musuh tersebut, lalu mendudukkannya kembali sebagai alat perjuangan dan perlawanan.

Sumber : Greencitizenindonesia.com

 
SBY: Pariwisata dan Industri Kreatif Harus Dikembangkan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hans Henricus   
Rabu, 18 November 2009 08:14

JAKARTA. Pemerintah menjamin tak lagi mengandalkan potensi ekonomi yang hanya bertumpu pada sektor pertanian, manufaktur, dan jasa meskipun ketiganya masih menjadi salah satu tulang punggung Indonesia.

Melainkan, masih ada dua potensi ekonomi yang mampu menunjang perekonomian Indonesia. Mereka adalah sektor pariwisata dan industri kreatif berbasis budaya dan teknologi. "Kita dorong dan perluas kegiatan ekonomi kreatif dan ekonomi pariwisata," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat membuka pekan industri kreatif di Jakarta, Jumat (26/6).

SBY menambahkan, kegiatan ekonomi di sektor pariwisata harus menyumbang pendapatan negara yang lebih besar terhadap produk domestik bruto (PDB). "Saya ingin kontribusi ekonomi pariwisata terhdap GDP harus lebih besar," tukas Presiden.

Selain itu, kegiatan ekonomi kreatif yang berbasis budaya dan teknologi telah memberi kontribusi ekonomi dalam penyerapan tenaga kerja dan pemakaian produk lokal.

Pemerintah menjamin, akan menerbitkan kebijakan-kebijakan yang tidak menyulitkan pelaku usaha dalam menggenjot potensi ekonomi di sektor wisata dan industri kreatif. "Pemerintah wajib mengeluarkan kebijakan yang kondusif dan bantuan modal," imbuhnya.


Sumber : Kontan.Co.Id

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 18 November 2009 08:16
 
Industri Kreatif Mampu Meningkatkan Jumlah Wisatawan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh A-133/das - PR   
Rabu, 18 November 2009 08:05

BANDUNG, (PRLM).- Perkembangan pesat produk industri kreatif asal Jabar telah mampu meningkatkan jumlah wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang berkunjung ke Jabar.

Hal itu diungkapkan Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Jabar Netty Prasetyani, saat membuka seminar sehari mengenai pengembangan industri kreatif, di Gedung Sate, Bandung, Jumat (22/5).

Menurut Netty, produk industri kreatif di Jabar telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis untuk mendatangi objek wisata di Jabar. Jika dikelola dengan baik, industri kreatif akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan daerah. Industri kreatif di Jabar terdiri dari berbagai bidang, di antaranya kerajinan, desain, dan seni pertunjukan.

Terkait dengan industri kreatif di bidang budaya, seperti angklung dan batik, Netty mengatakan, perlu adanya upaya gigih untuk melestarikan industri kerajinan tersebut.

Pemprov Jabar, lanjut Netty, telah memasukkan pengembangan industri kerajinan sebagai bagian dari visi pembangunan Pemprov Jabar 2008-2013, yakni mewujudkan masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Karena itu, seluruh upaya pengembangan industri kreatif diarahkan untuk membangun industri yang mandiri sekaligus menyejahterakan masyarakat, khususnya kesejahteraan pelaku industri kreatif. (A-133/das)***

Sumber : Pikiran Rakyat.Com

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 18 November 2009 08:08
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 3

Comment

Peluang Usaha

_______________________________ Keranjang Anyaman Plastik

Kelompok Perempuan Desa Hutan Kab. Ngawi, memproduksi lebih dari 10.000 buah keranjang anyaman plastik per bulan. Kualitas yang terjaga, kontinuitas pasokan yang stabil, dan harga yang sangat kompetitif, menjadi alasan utama untuk menjadi bagian dari distributor produknya.

Saat ini, produk tersebut tersebar ke hampir seluruh kota besar di Jawa dan Sumatra. Selain itu, beberapa kelompok secara khusus memproduksi kualitas ekspor.

Anda tertarik? Hub. 081578587008

_______________________________ Kertas Pelepah Pisang

Kertas Pelepah Pisang produksi Desa Hutan, kualitas ekspor tanpa zat kimia, menggunakan pewarna alami, bercorak nature. Kuantitas 10.000 lembar per bulan dengan kontinuitas pasokan stabil.

Tersedia pula produk hasil olahan pelepah pisang, tambang, aneka kerajinan, kotak hadiah, dompet, tas, dll.

Kursus dan Pelatihan pembuatan kertas pelepah pisang, dalam bentuk paket langsung produksi.

Hubungi : 081578587008

_______________________________