Mengambil tanpa Mengurangi PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh A Dudi Krisnadi   
Sabtu, 14 November 2009 08:08

Lingkungan adalah Hidup Kita

Saya sungguh sangat beruntung, lahir dan besar di lingkungan desa pantai pesisir selatan Jawa Barat, tepatnya Pantai Pangandran di Ciamis Selatan.  Sebuah desa teluk yang merupakan perpaduan nuansa kehidupan desa nelayan dan pertanian.  Eyang saya termasuk orang kaya, memiliki perahu, jaring, kebun kelapa dan hamparan sawah.  Ayah saya memiliki sebuah penginapan sederhana tepat di tepi pantai, beberapa meter disebelahnya terdapat hutan alam yang dikenal dengan nama Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Begitu banyak orang disekitar Eyang saya yang hidupnya sangat tergantung pada beliau.  Meskipun beliau itu kakek dan nenek dari ayah saya, tapi entah mengapa saya memanggil beliau berdua dengan sebutan Nene dan Aki (nenek dan kakek). Saya besar dalam pengasuhan keduanya dan sekali lagi, saya sangat beruntung karena keduanya sangat memanjakan saya.

Masa kecil saya penuh berisi ”permainan dan kenakalan” khas anak pantai di tepi hutan, interaksi dengan hutan dan laut lepas adalah keseharian saya.  Kucing-kucingan adalah permainan yang biasa dilakukan anak-anak, tapi kami melakukannya di atas pohon, melompat dari dahan ke dahan, saling kerjar dan menghindar, atau uji nyali bertatapan dan adu teriak dengan monyet di atas pohon.  Jika berhasil mengusir monyet, kami pun menepuk dada dan berteriak seperti Tarzan.  Kadang menelusuri gua dan sungai bening di dalam hutan, mandi di mata air atau air terjun yang langsung mengalir ke laut.

Jujur saja, sebenarnya saya dilarang masuk ke dalam hutan, karena Aki bilang di dalam hutan banyak sekali petilasan karuhun (nenek moyang) saya yang tidak boleh dirambah.  Mengambil sesuatu di hutan sangat dipantang, meskipun itu hanya sepotong ranting kering, jika nekad melakukannya dan ketahuan, Aki akan menjemur saya di halaman dan ditonton banyak orang.

Suatu saat, seperti biasanya ketika akan tidur, Aki bercerita tentang banyak hal yang sesungguhnya berisi petuah dan nilai-nilai kearifan tentang alam.  Hal tersebut semakin saya sadari saat ini.  Salah satunya yang sangat membekas pada diri saya adalah nasehat Aki ketika siang harinya saya mendapat hukuman karena masuk dan tersesat di hutan semalaman. Praktis, malam itu saya tidak dapat pulang dan tidur di sebuah hamparan batu di samping air terjun.  Nasehatnya, saya boleh masuk kedalam hutan mana pun di dunia ini, jika saya sudah bisa keluar dari hutan dengan membawa uang, tanpa membawa apa pun yang ada di hutan.  Jadi, selama saya tidak dapat menunjukan kepadanya cara keluar dari hutan dengan membawa uang, tanpa membawa apa pun yang ada di hutan, maka selama itu pula saya tidak boleh masuk kedalam hutan.   Menurutnya, jika saya sudah bisa seperti itu, maka saya akan selalu selamat ketika berada didalam hutan, karena saya akan selalu dijaga oleh roh penguasa hutan.

Sampai beliau meninggal, tidak satu pun cara dapat saya tunjukan.

Sebuah Pesan

Suatu hari, ibu saya bertanya mengapa saya tidak pernah lagi meminta uang padanya? Tatapan menyelidik jelas sekali tampak pada matanya.  Saya bilang, saya mendapat uang dari upah mengantar wisatawan masuk ke dalam gua.  Di hutan memang terdapat banyak gua, bahkan ada pula yang dikeramatkan.  Banyak sekali pengunjung yang masuk dan berjiarah kedalamnya.  Saya sering memandu mereka dan menerangi jalannya dengan sebuah lampu senter.  Terkadang, saya menunjukkan dimana letak air terjun, letak tanaman raflesia (bunga bangkai), atau menunjukkan cara melihat banteng atau rusa tanpa membuat mereka lari bersembunyi.  Dan, mereka selalu memberi saya uang.

Ketika menjawab pertanyaan ibu saya, terlintas nasehat Aki almarhum tentang keluar dari hutan dengan membawa uang tanpa membawa apa pun yang ada di dalam hutan.  Ternyata, tanpa sadar selama ini saya sudah dapat memecahkan teka-teki nasehat Aki tersebut,  keluar dari hutan dengan membawa uang tanpa membawa apa pun yang ada di dalam hutan. Saat itu pula saya berlari ke makam Aki, meninggalkan ibu saya yang kebingungan melihat saya lari tiba-tiba.  Di makam Aki, saya menangis dan menceritakan bahwa sekarang saya sudah boleh masuk ke hutan mana pun di dunia ini, karena saya dapat membuktikan, bisa keluar dari hutan dengan membawa uang, tanpa membawa apa pun yang ada di hutan.

Kejadian tersebut sangat mempengaruhi pandangan saya tentang lingkungan tempat saya hidup, khususnya tentang hutan.  Pelajaran yang saya ambil adalah jika mengenal dengan baik lingkungan yang ada di sekitar kita, maka kita dapat mengambil manfaat ekonomi darinya, dengan tidak harus mengurangi atau mengganggu fungsi keberadaannya.

Demikian pula dengan mengambil manfaat dari keberadaan hutan di lingkungan sekitar kita, dapat dilakukan dengan tidak harus mengurangi atau mengganggu keberadaan fungsi vitalnya.  Roh hutan yang dijanjikan Aki akan menjaga saya, karena saya sudah mampu ”keluar dari hutan dengan membawa uang, tanpa membawa apa pun yang ada di dalam hutan”, saya pahami sebagai sebuah bentuk keseimbangan alam.

Jika keseimbangan tersebut terganggu, maka tentu akan menciptakan ketidakselarasan.  Dan sebaliknya, jika keseimbangan itu tetap terjaga, maka tentu akan membuat kita terjaga dari segala bencana yang dapat ditimbulkan oleh alam.   Maka, .............................

 

”.......biasakanlah untuk selalu dapat mengambil manfaat ekonomi dari hutan,

dengan tanpa harus mengganggu keseimbangan fungsinya.”


AD Krisnadi

 

Comment