OASE DI TENGAH TELAGA (1) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh A Dudi Krisnadi   
Kamis, 12 November 2009 07:44

Telaga Sarangan memang salah satu Daerah Tujuan Wiasata (DTW) andalan di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Magetan.  Bukan saja karena keberadaan telaganya, namun juga atmosphere pegunungan yang dikelilingi hutan pinus dan tegakan pohon lain berumur lebih dari 50 tahun.  Sejuk dan dingin segera menyergap saya sejak menapaki jalan menanjak memasuki pintu gerbang Sarangan.  Jalan lingkar selatan yang tengah dikerjakan, menjanjikan keindahan luar biasa kala kelak telah sempurna.  Menjelang tengah malam, jalan lingkar itu bagai naga bersinar dari lampu mobil dan motor yang pelan menapaki tanjakan lereng Lawu.

Sungguh, saya tidak memiliki bayangan seperti apa kehidupan masyarakat desa hutan di batas hutan lindung Gunung Lawu ini.  Kelurahan Sarangan, memang berbatasan dengan hutan yang dikelola KPH Lawu Ds, tepatnya di BKPH Lawu Selatan, RPH Sarangan.  Secara administratif, masuk kedalam wilayah Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan Propinsi Jawa Timur.  Baru setelah memasuki rumah megah dan disambut ramah banyak orang yang menurutnya telah menunggu sejak habis Isya, saya memiliki sedikit gambaran tentang profile masyarakat yang memiliki wengkon hutan Sarangan.

Seperti biasanya tatkala berbincang dengan masyarakat desa hutan (MDH),  saya melihat tatapan penuh harap mengiringi paparan mereka tentang rencana dan keinginan-keinginan mereka untuk mengembangkan potensi yang ada disekitarnya.  Berbeda dengan kebanyakan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) lainnya, kali ini saya berhadapan dengan LMDH yang secara ekonomi relatif cukup mapan.  Selain itu, kualitas SDM pengurus yang memiliki kecakapan beragam, tokoh agama, tokoh spiritual, aktivis organisasi dan kepemudaan, pengusaha, pengrajin, seniman dan  tentu saja petani hortikultura.  Selintas, muncul rasa heran mengapa mereka belum dapat mewujudkan harapannya untuk mengembangkan usaha anggotanya.

Penasaran dengan keheranan saya tadi, mereka pun menjawab dengan memaparkan sejarah berdirinya LMDH yang mereka beri nama Wono Asri.  Sebagai LMDH yang memiliki wengkon hutan lindung, tentu saja mereka memiliki peluang yang sangat kecil untuk mendapatkan kontribusi sharing bagi hasil produksi kayu dari Perum Perhutani.  Bahkan, untuk memanfaatkan ruang kelola dengan agroforestry pun hampir tidak mungkin.  Pasalnya, hutan lindung memiliki ketentuan yang lebih ketat dalam pemanfaatannya dibanding dengan hutan produksi.  Kondisi ini membuat LMDH Wono Asri praktis tidak dapat mengandalkan wengkonnya sebagai sumber kas LMDH atau sumber pendapatan anggotanya.

Selama ini, LMDH Wono Asri mengelola usaha dsistribusi air untuk lebih dari 300 orang anggotanya.  Air yang bersumber dari mata air di wengkonnya, dialirkan melalui pipa-pipa ke instalasi di rumah pelanggan yang menjadi anggotanya.  Setiap bulan, anggotanya dikenakan biaya Rp 5.000 untuk pemakaian skala rumah tangga yang tidak terbatas.  Hasil dari iuran itu, selain digunakan untuk maintenance juga dikembalikan kepada anggota dalam bentuk simpan pinjam.  Menurut mereka, kas simpan pinjam yang berputar di anggota sampai saat ini mencapai lebih dari Rp 200 juta.

Usaha yang mereka sebut HIPAM (Himpunan Pemakai Air Minum) ini menjadi awal dari pembentukan LMDH yang kemudian melakukan kerjasama dengan Perum Perhutani.  Pembentukan LMDH Wono Asri dibiayai secara swadaya, mulai dari proses awal hingga biaya notariat.  Saya sungguh terkejut mendengar hal tersebut, pasalnya setahu saya biaya pembentukan LMDH ini telah dianggarkan oleh KPH dan bukan beban masyarakat desa hutan.  Lucunya, selain biaya yang tidak sampai ke mereka, mereka pun “tertipu” mentah-mentah oleh oknum Perum Perhutani yang mengurus badan hukum mereka.  Setelah saya lihat kelengkapan administrasinya, ternyata sampai saat ini LMDH Wono Asri belum berbadan hukum.  Mereka hanya memiliki Perjanjian Kerjasama dengan Perum Perhutani yang dicatatkan di notaris.

Nilai Kearifan Lokal

Kesadaran ekologi masyarakat kelurahan Sarangan cukup tinggi, terbukti pada setiap kejadian terbakarnya hutan lereng Gunung Lawu seperti yang baru-baru ini terjadi, dengan kesadaran penuh mereka berupaya memadamkannya secara swadaya.  Bukan hanya waktu dan tenaga, tetapi juga biaya mereka keluarkan untuk kegiatan tersebut.  Kesadaran ini muncul lebih banyak terkait karena mereka menggunakan sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan airnya.  Konsepnya sangat sederhana, mereka berkeyakinan bahwa jika hutan di sekeliling mereka rusak, maka mereka pun akan kesulitan untuk mendapatkan air bagi kebutuhan sehari-harinya.  Pasalnya, sangat tidak mungkin menggali sumur untuk mencukupi kebutuhan air tersebut.

Wujud nyata kesadaran ekologi itu pun mereka tunjukan dengan turut mengawasi keamanan hutan, mengingatkan masyarakat agar tidak mencuri kayu di hutan, dan memperbanyak kegiatan usaha anggota di luar kawasan hutan.  Wengkon hutan lindung yang mereka kelola, praktis membuat interaksi LMDH Wono Asri  dengan hutan sangat terbatas.  Perolehan manfaat ekonomi dari wengkonnya itu bisa dikatakan hampir tidak ada.  Malah, LMDH Wono Asri lebih banyak memberikan kontribusi dalam bentuk materi untuk menunjang kegiatan pengelolaan hutan.  Baik bantuan yang diminta secara langsung oleh mantrinya, maupun kegiatan-kegiatan  lain yang memang seharusnya bukan beban masyarakat.

Potensi Eco Wisata

Atas permintaan LMDH Wono Asri  untuk dapat memfasilitasi keinginannya mengembangkan usaha bersama LMDH dan para anggotanya, saya pun mengajak mereka untuk berkeliling melakukan inventarisasi potensi wengkon yang mereka miliki.  Seperti saya duga, wengkonnya itu menyimpan banyak sekali potensi yang terpendam.  Potensi yang sebetulnya dapat mereka konversi menjadi sumber pendapatan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kearifan mereka.  Pada intinya, LMDH dapat memperoleh 3 manfaat hutan sekaligus dalam satu kegiatan yakni pengembangan usaha jasa lingkungan dan wisata.  Dengan mengembangkan kegiatan tersebut, manfaat ekologi, sosial dan ekonomi hutan dapat beriringan dan menjadi sumber utama pemberdayaan masyarakatnya.

Banyak sekali potensi wengkon LMDH Wono Asri yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan ruang kelolanya.  Tentu saja pemanfaatan ini harus sesuai dengan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan, seperti tidak merubah fungsi dan bentang alam yang sudah ada.  Pemanfaatan ruang kelola untuk kegiatan olah raga alam misalnya, outbound, paintball, pasar seni dll, dapat dilakukan.  Selain itu, pengembangan ekonomi kreatif berbasis kerajinan berbahan alam pun dapat dilakukan.  Produk-produk kerajinan berbahan kertas pelepah pisang, kerajinan limbah kayu, anyaman bambu, batik sidomukti, dan banyak kreasi kerajinan jenis lainnya yang dapat dikembangkan.

Mengingat bahwa obyek wisata Telaga Sarangan berada di dalam wilayah Kelurahan Sarangan, dimana LMDH Wono Asri berdomisili, maka pasar dan pangsa pasar untuk produk dan jasa yang diusahakan oleh LMDH Wono Asri bukan merupakan kendala utama.  Bahkan, komunitas Tour’s and Leader serta PHRI setempat telah sejak dari awal menjanjikan obyek dan atraksi wisata alam yang nantinya dikelola oleh LMDH Wono Asri dimasukan kedalam paket wisata mereka.

(bersambung)

Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 13 November 2009 11:21
 

Komentar Anda

Comment

Related Items

Peluang Usaha

_______________________________ Keranjang Anyaman Plastik

Kelompok Perempuan Desa Hutan Kab. Ngawi, memproduksi lebih dari 10.000 buah keranjang anyaman plastik per bulan. Kualitas yang terjaga, kontinuitas pasokan yang stabil, dan harga yang sangat kompetitif, menjadi alasan utama untuk menjadi bagian dari distributor produknya.

Saat ini, produk tersebut tersebar ke hampir seluruh kota besar di Jawa dan Sumatra. Selain itu, beberapa kelompok secara khusus memproduksi kualitas ekspor.

Anda tertarik? Hub. 081578587008

_______________________________ Kertas Pelepah Pisang

Kertas Pelepah Pisang produksi Desa Hutan, kualitas ekspor tanpa zat kimia, menggunakan pewarna alami, bercorak nature. Kuantitas 10.000 lembar per bulan dengan kontinuitas pasokan stabil.

Tersedia pula produk hasil olahan pelepah pisang, tambang, aneka kerajinan, kotak hadiah, dompet, tas, dll.

Kursus dan Pelatihan pembuatan kertas pelepah pisang, dalam bentuk paket langsung produksi.

Hubungi : 081578587008

_______________________________