Desa Hutan memiliki potensi LUAR BIASA untuk tampil menjadi bagian dari solusi bagi negeri. Mewujudkan Desa Hutan sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru, merupakan visi dan tekad kami.
Ekonomi Kreatif Masyarakat Desa Hutan
Desa Hutan perlu fokus pada Ekonomi kreatif PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh A Dudi Krisnadi   
Rabu, 28 Oktober 2009 07:15

Mari E Pangestu, menyebutkan bahwa peluang dari tahun ekonomi kreatif yang akan muncul tahun 2009 ini sangat banyak. Sebanyak 5,4 juta (5,9 persen) dari penyerapan tenaga kerja, sebesar 6,3 persennya dari produk domestik bruto (PDB). Menurutnya, terutama untuk pasar dalam negeri sangat besar kontribusinya karena dilakukan oleh pelaku ekonomi kreatif di dalam negeri. Sumbernya, bahan bakunya, dan segala macam yang digunakan, sebagian besar dari dalam negeri.

Menurut Mari, pasar dalam negeri mempunyai tenaga kerja yang sangat besar, yakni sebesar 65 juta orang. Dari jumlah tersebut adalah anak-anak di bawah 15 tahun, sementara anak muda di bawah usia 29 tahun ada 165 juta. Ekonomi kreatif, tambahnya, banyak digerakkan oleh anak muda, dan pasarnya anak muda. Potensinya luar biasa. Nilai perekonomian dari sumbangan ekonomi kreatif Rp 100 triliun di 2006. Kalau diperkirakan pertumbuhannya enam persen, hitung Mari, berarti Rp 112 triliun pada saat ini pertumbuhannya mengikuti ekonomi. Kita harapkan bisa lebih tinggi dari perekonomian nasional karena semuanya dari dalam negeri pasarnya.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 29 Oktober 2009 00:18
Selanjutnya...
 
Mari, Kembali pada Kearifan Lokal PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh A Dudi Krisnadi   
Rabu, 28 Oktober 2009 06:52

Pentingnya mengembalikan atau setidaknya melibatkan kembali masyarakat desa di sekitar hutan (dengan nilai-nilai kearifan lokalnya) dalam  memperbaiki kondisi sumberdaya hutan kita, masih sulit dipahami oleh para pengelola negara. Aida Vitayala *6 menyebutkan, sampai saat ini ketika orang bicara tentang kerusakan hutan sebagai akibat pengelolaan hutan yang tidak tepat (dari pemegang HPH), maka isu yang ditampilkan adalah masih terfokus pada kondisi perusakan hutan, penggundulan hutan, pencurian hutan, penebangan hutan (illegal logging) serta milyaran rupiah kerugian yang harus ditanggung oleh negara tiap hari atau bulan. Namun sejauh mana dampaknya terhadap kemiskinan atau pemiskinan masyarakat di sekitar hutan, belum menjadi ISU SENTRAL apalagi untuk melihatnya dari perspektif gender.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 29 Oktober 2009 00:25
Selanjutnya...
 
Paradigma dan Strategi Implementasi PHBM Harus Dirubah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh A Dudi Krisnadi   
Rabu, 28 Oktober 2009 06:41

Tatkala berkesempatan memenuhi undangan Heri Sudjarwanto, Ketua LSM PALAPA Kab. Ngawi, dalam acara penyerahan bantuan Meneg Pemberdayaan Perempuan kepada Kelompok Perempuan Desa Hutan, seorang teman LMDH dengan semangat ’45 “ngadu” tentang apa yang dialaminya.  Tumben, yang kali ini bukan tentang internal Perhutani, tapi seorang pejabat Kepala Dinas di Kab. Ngawi.  Bahkan, tidak cukup dengan itu, dia pun menyampaikannya dalam sesi dialog dengan Bupati Ngawi yang kebetulan saya pandu.  Jadilah forum itu “pengadilan tanpa tersangka” yang membuat saya memilih no comment.  Lah daripada tambah ribut dan keluar dari thema pertemuan saat itu?  :)

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 29 Oktober 2009 00:20
Selanjutnya...
 
Kualitas Sumberdaya Hutan Kian Menurun PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh A Dudi Krisnadi   
Rabu, 28 Oktober 2009 06:50

Ria Casmi Arrsa mengungkapkan, akibat dirusaknya tatanan kearifan lokal masyarakat hukum adat (termasuk masyarakat desa hutan?) dalam hal pengelolaan lingkungan, khususnya kawasan hutan, menyebabkan Indonesia berada pada jurang degradasi akan eksistensi peran dan fungsi hutan di masa yang akan datang.  Sementara itu, Transtoto Handadhari dengan tegas menyatakan, telah terjadi penurunan kualitas sumberdaya hutan di Indonesia dan bahkan sedang mengalami seriously defunction, akibat kerusakan yang sulit dicegah dan dipulihkan, yang membawa peran ekonomi kehutanan terpaksa diabaikan negara.

Penurunan kualitas SDH pun berdampak pada kontribusi sektor kehutanan terhadap produk domestik bruto atas dasar harga berlaku, PDRB selama 10 tahun terakhir menunjukan nilai yang terus menurun.  Berturut-turut dari 1,56 % pada 1997,  lalu 1,22 % (1998), 1,26 % (1999), 1,18 % (2000), 1,03 % (2001), 0,97 % (2002), 0,91 % (2003), 0,88 % (2004), 0,81 % (2005)  dan menjadi 0,90 % pada 2006.  Meskipun angka 2005 dan 2006 itu masih sementara, tapi angka prosentase penurunannya sangat drastis sekali.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 29 Oktober 2009 00:28
Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 5 dari 7

Login Form



Statistics

Jumlah Kunjungan Konten : 148293

Who's Online

Kami memiliki 5 Tamu online

Comment

Peluang Usaha

_______________________________ Keranjang Anyaman Plastik

Kelompok Perempuan Desa Hutan Kab. Ngawi, memproduksi lebih dari 10.000 buah keranjang anyaman plastik per bulan. Kualitas yang terjaga, kontinuitas pasokan yang stabil, dan harga yang sangat kompetitif, menjadi alasan utama untuk menjadi bagian dari distributor produknya.

Saat ini, produk tersebut tersebar ke hampir seluruh kota besar di Jawa dan Sumatra. Selain itu, beberapa kelompok secara khusus memproduksi kualitas ekspor.

Anda tertarik? Hub. 081578587008

_______________________________ Kertas Pelepah Pisang

Kertas Pelepah Pisang produksi Desa Hutan, kualitas ekspor tanpa zat kimia, menggunakan pewarna alami, bercorak nature. Kuantitas 10.000 lembar per bulan dengan kontinuitas pasokan stabil.

Tersedia pula produk hasil olahan pelepah pisang, tambang, aneka kerajinan, kotak hadiah, dompet, tas, dll.

Kursus dan Pelatihan pembuatan kertas pelepah pisang, dalam bentuk paket langsung produksi.

Hubungi : 081578587008

_______________________________